Profil dan Sejarah Desa



SEJARAH DESA JAMBU ,KECAMATAN KLEDUNG ,KABUPATEN TEMANGGUNG


      Sebelum Desa Jambu menjadi sebuah desa adalah merupakan sebuah hamparan hutan dan semak-semak rerumputan yang berada disebuah lereng pegunung ,tepatnya disebelah utara lembah kaki Gunung Sumbing,dahulu daerah tersebut tidak berpenghuni bahkan setiap ada orang yang datang yang ingin singgah diwilayah tersebut selalu tidak mampu bertahan lama karena adanya kekuatan Gaib yang menyelimuti Daerah hutan tersebut ,bahkan yang memaksakan untuk tinggal didaerah tersebut meraka harus kehilangan nyawanya , ibarat pepatah Jawa ( jalmo moro jalmo mati,jalmo moro jalmo minggat ) artinya manusia yang datang akan mati kaluapun  tidak mati orang itu tidak akan betah tinggal di daerah ini, karena daerah itu banyak dihuni dari golongan mahluk gaib .

      Konon cerita daerah tersebut dikenal sangat angker bahkan yang pernah tinggal sementara didaerah tersebut untuk mecoba bercocok tanam tidak dapat tumbuh ,Pada ahirnya mereka meninggalkan daerah tersebut karena tanahnya gersang tidak bisa diolah tidak subur ,hanya pohon kayu dan rerumputan yang dapat tumbuh didaerah itu,ada pula pohon Jambu dan pohon Kledung yang tumbuh didaerah itu namun pohon itupun tidak bisa tumbuh subur. Itulah keadaan wilayah daerah wilayah Jambu sebelum menjadi desa sekitar tahun 1400 M .

      Pada suatu ketika ada seorang yang sakti yang bernama Simbah Windu atau yang terkenal dengan SYEH NAWAWI ASSIDIQ ( Makam Beliau Di Gunung Windu , Wadaslintang-Wonosobo) https://bit.ly/Makam_SyechNawawiAsSidik ,Beliau seorang Aulia yang memiliki Karomah atau kemampuan yang dapat melihat sesuatu yang tidak dapat dilakukan manusia biasa ,salah satunya beliau dapat melihat keadaan sekitar wilayah daerah Jambu yang belum bisa diolah  dan dimanfaatkan oleh manusia ,Beliau juga  memiliki kemampuan yang lain salah satunya beliau mampu mendengar tangis bayi yang baru lahir dari jarak jauh yang kelak akan menjadi orang-orang pilihan ,suatu malam simbah Windu yang berada didaerah Wadaslintang (Wonosobo) mendengar sayup-sayup suara tangis bayi dari kejahuan yang datang dari arah timur ,dan kemudian dicarilah suara tangis bayi tersebut,ternyata suara tangis bayi itu keluar dari rumah seorang yang bernama simbah SIDO atau ( Syeh Hasan Mu’alim ) yang berada di Mojosari  Mojokerto , kemudian Simbah Windu pun menyambangi ( Mendatangi ) dan masuk kerumah,ternyata benar adanya bayi tersebut bayi laki-laki yang baru lahir yang diberi nama Husaen Mu’alim ,Simbah Windu berfikir dalam benaknya bahwa bayi ini bukan sembarangan dia memiliki kelebihan dan berharap kelak menjadi muridnya ,Setelah kelahiran anak tersebut, dalam beberapa tahun berjalan Simbah Windu selalau datang pada malam Jumat untuk menjenguk bahkan menggendongnya .

      Selang beberapa tahun kemudiaan ,setelah anak tersebut ( Husaen Mu’alim ) berumur  kurang lebih 10 tahun,simbah Windu ( Syeh Nawawi Assidiq ) kembali datang ke Mojokerto dengan maksud ingin mengajak anak ini Kewadaslintang ,Hal ini disampaikan kepada ( Syeh Hasan Mu’alim ) ayah handanya .dan ayah handanya pun meridhoi ( menyetujui ) namun dengan syarat anak ini yang akan datang sendiri ketempat beliau tanpa ditemani Simbah Windu ,dan kemudian Simbah Windu pun menyepakati ,Setelah beperapa hari kemudian ahirnya Simbah Sido mengutus anaknya ( Husaen Mu’alim ) untuk pergi ke Wadaslintang mencari tempat singgah simbah Windu untuk menuntut Ilmu berguru kepada beliau ,Walaupun usia masih belia karena saking ta’dzim dan hormatnya kepada orang tua beliau pun menuruti apa yang menjadi perintah orang tuanya ,Kemudian setelah mendapat amanat dan perintah Ayahanda, Husaen Mu’alim pun pergi untuk mecari tempat singgah simbah Windu yang berada sangat jauh,hanya berbekal keyakinan dan do’a kedua orang tuanya beliau berjalan menelusuri hutan gunung sungai untuk sampai ketempat singgah simbah Windu ,beliau masih belia namun luar biasa tantangan dan rintangan yang di hadapi tidak menyurutkan niat untuk melaksakan amanah ayahandanya dan ingin bertemu dengan simbah Windu ,berkat lindungan dan petunjuk Yang Maha Kuasa,perjalanan hari demi hari dilalui ahirnya tidak lama kemudian sampai ditempat singgah Simbah Windu dengan selamat .

      Sesampainya ditempat singgah simbah Windu ,beliau merasa takjub dengan anak ini ,beliau tidak salah bahwa anak ini memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh anak-anak pada umumnya, dan beliau menyambutnya dengan suka cita riang gembira .Setelah beberapa hari kemudian setelah anak ini singgah bersama simbah Windu dan simbah WIndu  mengabari ayahandanya bahwa anaknya telah sampai di tempat simbah Windu dengan selamat,dan simbah Sido pun mendengar kabar itu merasa bahagia dan menyerahkan anaknya sepenuhnya kepada simbah Windu untuk menjadi muridnya .Dan simbah Windu pun kepadanya penuh dengan perhatian.

      Simbah Windu tidak tinggal sendirian ditempat singgahnya ada satu murid yang sudah lama berguru kepada beliau bernama Sofa , beliau telah banyak belajar ilmu kepada simbah Windu ,tapi dengan kehadiran Husaen Mu’alim disana dan perhatiannya simbah Windu kepada beliau lebih, maka mulailah ada rasa dalam hati Sofa tidak nyaman terhadap anak itu, perasaan itu sudah diketahui oleh simbah Windu walau tidak diucapkannya dan beliau pun tidak menegurnya karena belum saatnya.

Setelah berjalannya waktu simbah Windu mengajarkan kepada mereka berdua  tentang ilmu ahlak ,agama ,adat ,juga ilmu lahir dan batin telah cukup ,dan Husaen Mu’alim pun sudah dewasa mejadi seorang pemuda,maka saat itulah simbah Windu ingin menguji keduanya siapa yang Ikhlas dan taat ,dan  itulah saatnya simbah Windu menyampaikan dan mengungkapkan rasa yang selama ini dipendam oleh salah satunya murid yaitu rasa yang tidak disukai oleh Simbah Windu ,maka untuk mengujinya yaitu Simbah Windu memerintahkan kedua muridnya untuk bertapa disebuah daerah ( yang merupakan cikal bakal Desa Jambu sekarang ) https://bit.ly/Makam_SyehHusaenMualim yang belum bisa dihuni atau diolah oleh manusia karena daerah itu masih banyak dihuni oleh mahluk Gaib, dan didaerah itu ada dua pohon yang hampir mati yaitu pohon Jambu dan pohon Kledung,dan diantarkanlah kedua muridnya kedaerah terebut ,sesampainya ditujuan kedua muridnya  diperintahkan untuk bertapa menjaga kedua pohon tersebut ,dan ditempatkan ditempat yang berbeda ,maka mulailah mereka melaksanakan perintah Simbah Windu ,dan Simbah Windu pergi meninggalkan kedua muridnya didaerah tersebut.

      Beberapa tahun kemudian Simbah Windu menjeguk kedua muridnya ingin membuktikan siapa yang Ikhlas dan taat kepada beliau ,ini bisa dibuktikan dengan kedua pohon tersebut yaitu pohon Jambu dan pohon Kledung ,siapa yang menjaga kedua pohon itu menjadi tumbuh subur itulah yang benar-benar Ikhlas dan taat hanya mencari Ridho Yang Maha Kuasa,tetapi yang menjaga kedua pohon itu tidak bisa tumbuh lagi bahkan mati maka dia yang masih memiliki hati yang belum bersih ,dan saat itulah Simbah Windu telah bisa membuktikan kepada  kedua muridnya siapa yang Ikhlas dan taat .

      Kemudian Simbah Windu membangunkan satu persatu kedua muridnya dari pertapaannya ,pertama simbah Windu meyambangi  Sofa dipertapaannya dan membangunkannya dengan ucapan salam ( As-salamu alaikum wa-rahmatullahi wa-barakatu ) dan Sofa pun bangun dari pertapaannya  dan menyambut salam gurunya ( Wa alaikum wa-rahmatullahi wa-barakatu ) ,setelah bangun beliau menyalami gurunya,dan melihat kedua pohon yang dijaganya mati maka Sofa pun langsung memohon maaf kepada gurunya, kemudian diajaklah Sofa untuk menyambangi ketempat pertapaanya Husaen Mu’alim sesampainya disana Sang Guru mengucapkan Salam kepada beliau, sampai diulang ucapan salam ( As-salamu alaikum wa-rahmatullahi wa-barakatu ) tiga ( 3 ) kali beliau tidak terbangun dari pertapaannya sehingga Sang Guru mengumandangkan Adzan setelah selesai barulah beliau terbangun dari pertapaanya,dan karena dalam pertapaanya beliau sudah seperti orong yang meninggal atau Bahasa jawa sedho maka Simbah Windu memberi nama julukan SAEDHO dan nama ini sampai hari ini tertanam dalam sanubari masyarakat ,setelah terbangun dari pertapaannya beliau langsung membalas salam dan menyalami Sang Guru ,dan kedua pohon yang dijaganya tumbuh subur dan berbuah ,dan saat itulah Simbah Windu telah mengetahui dan menyampaikan kepada kedua muridnya siapa yang Ikhlas,taat dan yang memiliki hati yang jernih,Sofa pun juga minta maaf kepada Husaen Mu’alim atau  Simbah Saedho kaena selama ini dia memiliki rasa tidak baik terhadapnya,dan untuk menebus kesalahannya dia siap untuk membersihkan hatinya maka Simbah Windu mengutusnya untuk singgah pertapa di Gunung Alang Dieng dan untuk berdakwah disana dan beliau disana terkenal dengan Simbah Sobo/Subuh/Sofhah dan makam beliau berada digunung Alang Dieng. https://bit.ly/Makam_MbahShofhah

     Dan setelah Simbah Saedho bisa menjaga kedua pohon itu bisa tumbuh subur  dan mampun mengubah wilayah yang tadinya tidak bisa dihuni dan diolah menjadi bisa maka Simbah Windu memberi nama daerah itu wilayah Jambu,dan dengan mohon ijin Ayahanda simbah Saedho dan perintah simbah Windu maka Simbah Saedho untuk menempati dan tinggal wilayah Jambu

Dan menjadi bukti bahwa wilayah ini dulu tidak bisa diolah masih ada sebidang tanah yang masyarakat sampai saat ini tidak berani mengarapnya dan menurut cerita masyarakat ditempat itu sering terdengar suara adzan dan sebidang tanah itu diberi nama pusung Mesjid.

      Dan semenjak Simbah Saedho tinggal disitu dan lahan daerah wilayah Jambu sudah bisa diolah, maka dari masyarakat sekitar wilayah Jambu berdatangan, ada yang mengarap lahan dan tinggal disitu, juga ada yang datang berguru kepada beliau ,dan beliau juga yang menyebarkan agama Islam di wilayah Jambu ,karena ini dibuktikan masih ada kitab peninggalan beliau yang telah diwariskan secara turun temurun. Dan beliau juga memiliki beberapa murid yang  berada diwilayah Temanggung ,Wonosobo.

      Simbah Saidho adalah merupakan sosok seorang yang luar biasa, beliau wafat sekitar tahun 1500 M dan makam beliau berada di Desa Jambu ,Setelah beliau wafat maka mayrarakat yang mengenang nama beliau hingga turun temurun yaitu Simbah Saedho.

      Setelah beliau wafat dan masa itu belum ada batas wilayah desa dan setiap desa sedang mencari batas lahan, dengan berbagai macam cara untuk menentukan luas wilayah desa ,maka ada yang membakar lahan sampai jauh mana nanti api itu bisa menghanguskan lahan,itulah wilayah mereka ,ada yang dengan memburu ayam,sampai mana ia jauh terbang dan lain sebagainya.

      Dan waktu itu wilayah Jambu baru dihuni sekitar 10 rumah,wilayah Jambu masuk wilayah kekuasaan Desa Petarangan karena dulu orang- orang  Petarangan dalam membuka lahan sampai wilayah barat Jambu. Dan saat itu wilayah Jambu menjadi daerah kekuasaan desa Petarangan dan diberi nama  Dukuh Jambeanom kelurahan Petarangan, nama ini diberikan karena untuk mengengan jasa sosok seorang pemuda yang mampu merubah wilayah Jambu,yaitu Simbah Saedho waktu muda.

      Setelah perkembangan waktu demi waktu penduduk Dukuh Jambeanam semakin lama semakin bertambah, dan waktu itu dibutuhkan seseorang untuk memimpin Dukuh Jambe anom maka ditunjuklah simbah Jogo Negoro untuk mengurus Dukuhan .

      Sekitar kurang lebih tahun 1600 M ,setelah mengalami perkembangan yang cukup untuk sebuah Desa ,Kedatangan Pegawai dari Kawedanan melangsir (mengukur) tanah ,dan sejak itulah Jambe Anom memisahkan diri dari Desa Petarangan ,pada saat itulah Dukuh Jambe Anom dirubah menjadi sebuah Desa Jambu, dengan diberi wilayah tanah tanah seluas 60,870 ha. Oleh karena itu Mbah Jogo Negoro yang menjabat Kepala Desa Dukuh, langsung ditetapkan menjadi Kepala Desa Jambu, lama kelamaan setelah Mbah Jogo Negoro Tua maka diganti oleh putranya yang bernama Pak Karto Widdjoyo dan menjabat kurang lebih 60 tahun. Sedangkan Kepala Desa yang ketiga juga dari putranya Bapak Karto Wijoyo yang bernama Marto wijoyo yang menjabat sampai sekitar tahun 1928 M. mulai Kepala Desa Pertama sampai Ketiga dengan sisteim tunjukan dan turun temurun. Sedangkan mulai Kepala Desa ke empat, dengan mengunakan sistim pemilihan dengan mengunakan lidi, tetapi karena calonnya hanya satu yaitu putra Bapak Marto Widjoyo maka hasil dari pemilihan menang mutlak sedangkan namanya adalah Karto Redjo, pada saat itu jumlah pemilih pemilih sekitar 170 orang. Dan Karto Redjo menjabat Kepala Desa selama selama kurang lebih 30 tahun.

      Sedangkan Kepala Desa yang Kelima bukan merupakan Keturunan dari lurah-lurah sebelumnya tetapi dari rakyat biasa yaitu Karto Dinomo, namun beliau buta huruf maka kurang di senangi oleh Masyarakat, oleh karena itu beliau hanya menjabat selama 18 bulan lamanya. Sehingga mengadakan Pemilihan lagi yang jadi bernama Karsan untuk Kepala Desa yang ke enam mulai tahun 1950 M sampai 1971 M.

      Pada bulan Maret 1971 telah dilaksanakan Pemilihan Kepala Desa yang mencalonkan dua orang ternyata yang terpilih oleh masyarakat adalah putranya Bapak Karsan ,yang bernama Sudarto yang menjabat Kepala Desa ke Tujuh sampai bulan Desember 1989 yang menjalankan tugas Kepala Desa adalah Sekretaris Desa yang bernama Rochmat. Pada bulan Januari 1990 yang mendapat suara terbanyak hasil Pemilihan Kepala Desa adalah Bapak Niti Sunarto yang akhirnya menjabat sebagai Kepala Desa yang ke Delapan sampai tahun 2000 pada masa Kepala Desa Bapak Niti sunarto Pemerintah Kabupaten melakukan Pemekaran Kecamatan sehingga tahun 2000 yang semula Desa Jambu Kecamatan Parakan dirubah menjadi Kecamatan Kledung, dan pada tahun 2000 masa jabatan Kepala Desa Niti Sunarto telah Habis maka dilakukan Pemilihan Kepala Desa dengan Calon tunggal yaitu Bapak Surdi  namun gagal karena hasil suara terbanyak adalah kosong sehingga tahun 2001 dilakukan Pemilihan Kepala Desa lagi dengan mendapatkan hasil suara terbanyak Bapak Margiyanto yang akhirnya menjabat Kepala Desa Ke Sembilan yang berakhir Tahun 2008, dan tahun 2008 mengadakan Pemiliha Kepala Desa yang Ke Sepuluh dengan Calon tunggal yaitu Bapak Naswanto namun dari hasil pemilihan tersebut mendapat suara terbanyak sehingga Bapak Naswanto dapat Menjabat Kepala Desa sampai tahun 2014. Dan selama kurang lebih 2 tahun kekosongan Kepala Desa dijabat Pejabat Sementara, dan tahun 2016 diadakan lagi pemilihan kepala desa yang ke sebelas, dan Bapak Subakir mendapatkan hasil suara terbanyak,dan menjabat kepala desa Jambu Periode I 2016-2022 kemudian Bapak Subakir menjabat untuk Periode II 2022-2028 Tahun berjalan.

Demikianlah sekelumit tentang asal-usul Desa Jambu , Kecamatan Kledung ,Kabupaten  Temanggung. https://youtu.be/PjVOBUs9mbQ

 

IG infodesajambu9 : 

https://www.instagram.com/infodesajambu9/

You Tube Info Desa Jambu : 

https://www.youtube.com/channel/UChZ715e-R_nJ-usRxT7FXUQ/featured

 @465Bagas_WA [ https://wa.me/message/LASK2YCQT2L7M1 ]

http://jambu-kledung.temanggungkab.go.id

https://bit.ly/Gapura_DsJambu