JARAN KEPANG TURONGGO MUDO

      Jaran kepang atau kuda lumping "TURONGGO MUDO" merupakan salah satu seni pertunjukan rakyat yang majemuk. Disebut jaran kepang, karena visual properti yang digunakan dalam pertunjukannya menggambarkan karakter prototipe menyerupai bentuk kuda dan ditarikan oleh sejumlah penari dengan gerak-gerak tarian seperti menunggang kuda. Jaran kepang  "TURONGGO MUDO" telah terdaftar di Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kabupaten Temanggung 1969/II.25.05/SP.NR/2022.

Jaran kepang di mata masyarakat Desa Jambu dianggap sebagai seni yang memiliki kekuatan magis. Dahulu, jaran kepang difungsikan sebagai medium untuk dapat terhubung dengan roh nenek moyang, lantaran ia sangat lekat, berakar, dan tumbuh melalui kepercayaan animisme. Jejak warisan animisme pada kesenian tersebut hingga kini masih terjaga. Sebelum berpentas salah satu sesepuh, pemain, atau penari jaran kepang selalu mengawalinya dengan penyelenggaraan prosesi ritual di punden-punden desa untuk memohon petunjuk kepada leluhurnya melalui perantaraan sesaji. Mereka berharap setiap pementasan senantiasa diberi kelancaran. Melalui penyelenggaraan sesaji itu pula dimaksudkan untuk mengundang indang atau roh leluhur agar masuk ke tubuh pemain jaran kepang. Keberadaan seni jaran kepang hingga kini pun masih dihadirkan sebagai sarana ritus sosial desa seperti selamatan bersih desa, sadranan, suran, ruwatan, maupun pernikahan dengan maksud agar terhindar dari balak atau gangguan roh-roh jahat.

      Cerita lisan tersebut adalah anggapan umum bahwa seni Jaranan merupakan visualisasi kisah-kasih Dewi Sanggalangit ketika diperintahkan menikah oleh ayahnya, Prabu Airlangga. Sanggalangit hanya bersedia menikah kalau calon suaminya mampu menciptakan kesenian yang belum pernah ada di tanah Jawa. Ternyata yang memenangkannya adalah Prabu Klanasewandono. Untuk mengenang sayembara yang diadakan oleh Dewi Sanggalangit dan pernikahannya dengan Klana Sewandana atau Pujangga Anom inilah masyarakat Kediri membuat kesenian jaranan yang disebut Jaranan Kediren. Sedangkan di Ponorogo muncul Reyog yang di dalamnya terdapat Jaran Kepang yang disebut Jathilan.

      Versi lainnya lagi menyebutkan Jaran Kepang terkait erat dengan Cerita Panji, terutama episode upaya mencari hilangnya Raden Putera atau Panji Inukertapati. Karena itu dalam pergelaran Jaran Kepang digambarkan sekelompok prajurit berkuda yang diikuti anjing pelacak mencari hilangnya Sang Pangeran, masuk hutan, bertemu dan berperang melawan binatang buas. Anggapan umum seperti itu sudah diamini secara umum. Kalangan pelaku Jaranan sendiri juga menyebut cerita yang sama ketika ditanya asal usul seni Jaranan.

     Di Kabupaten Temanggung Cerita Tentang Jaran Kepang adalah kisah sejarah tentang Boyong Menoreh menggambarkan kejadian atau sejarah perpindahan ibu kota atau pusat pemerintahan dari Kota Parakan ke Kota Temanggung saat ini. Dahulu wilayah di lereng Gunung Sumbing-Sindoro-Prahu ini bernama Kabupaten Menoreh, lalu pasca Perang Diponegoro terjadi suksesi pemerintahan, sehingga Bupati Baru Raden Ngabehi Aria Djojonegoro lewat resolusi Pemerintah Hindia Belanda Nomor 4 Tanggal 10 November 1834,memindahkan ibu kota yang kemudian diberi nama Kabupaten Temanggung.

>> Jaran Kepang Turonggo Mudo (Idakep) https://youtu.be/ZxaxzoRrkTg >>Turonggo Mudo (Idakmep) semua Terpana https://youtu.be/GGzOaxmigKI